Ketua MPR Minta Pemerintah Lakukan Ini untuk Akhiri Polemik UU Cipta Kerja


KONTENKREATIPS.COM
– Pasca pengesahan RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang, gelombang unjuk rasa terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Aksi massa ini bahkan berujung pada tindakan anarkis dan bentrokan hingga pengrusakan fasilitas umum.

Menyikapi hal itu, Ketua Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta pihak Pemerintah
untuk berinisitif mengakhiri polemik undang-undang (UU) Cipta Kerja.

Caranya, sebut politisi yang biasa disapa Bamsoet ini, dengan segera merancang dan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai turunan atau tindak lanjut UU Cipta Kerja.

Semua PP yang berkait dengan UU Cipta Kerja hendaknya mengakomodasi aspirasi komunitas pekerja dan pelaku usaha.

BACA JUGA : We Love Bali, Upaya Kemenparekraf Gairahkan Kembali Pariwisata Bali

BACA JUGA : Najwa Shihab Lampaui Susi dan Sri Mulyani, Wanita Paling Dikagumi di Indonesia

“Kita semua paham bahwa untuk melaksanakan suatu undang-undang, diperlukan peraturan pemerintah. UU Cipta Kerja yang baru disahkan DPR itu tentu saja tidak bisa segera dilaksanakan selama pemerintah atau Presiden belum menerbitkan peraturan-peraturan baru yang terkait untuk melaksanakan undang-undang tersebut. Karenanya, saya meminta pemerintah segera menerbitkan PP UU Cipta Kerja,” ujar Bamsoet di Jakarta, Senin (12/10/20), dilansir laman MPR RI.

Ketua DPR RI ke-20 ini meminta semua elemen masyarakat mau bersabar menunggu diterbitkannya PP yang menjadi pedoman pelaksanaan UU Cipta Kerja.

Pengaturan lebih jelas tentang pelaksanaan UU Cipta Kerja nantinya akan tergambar dari peraturan pemerintah, termasuk peraturan pemerintah daerah.

“DPR dan pemerintah telah menjelaskan dan memberi keyakinan bahwa UU Cipta Kerja yang mencakup 15 bab dan 174 pasal itu sama sekali tidak bertujuan mencelakai atau merugikan pekerja. Namun, untuk menghindari polemik, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah hendaknya memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap memberi masukan,” kata Bamsoet.

BACA JUGA : Ditahan Imbang Makedonia, Ini Evaluasi Shin Tae-yong Terhadap Garuda Muda

Kepala Badan Bela Negara FKPPI menambahkan, semua elemen masyarakat juga diminta tidak termakan dengan hoaks, misinformasi serta disinformasi seputar UU Cipta Kerja.

Jangan sampai akibat ketidakpahaman masyarakat, dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang ingin memecah belah persatuan bangsa.

“Saat ini banyak hoaks, misinformasi dan disinformasi terkait UU Cipta Kerja yang beredar di masyarakat. Semisal, disebut upah minimum, cuti haid, cuti hamil, hak atas cuti dihilangkan ataupun tidak ada batasan waktu kerja. Semua itu tidak benar. Saya berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan informasi hoaks yang jauh dari kebenaran,” pungkas Bamsoet. (*)

BACA JUGA :

RUU Cipta Kerja Disahkan, Alissa Wahid: Kenapa Aspirasi NU dan Muhammadiyah Tak Diindahkan?