Teddy Gusnaidi: PPKM Percuma Kalau Rumah Makan Tutup, Warung PKL Tetap Ramai


KONTENKREATIPS.COM
– Pemerintah telah menerapkan Pemberlakuan Pembatasa Kegiatan Masyarakat (PPKM) atau PSBB ketat, terutaman untuk Pulau Jawa dan Bali.

Namun, penerapan itu disangsikan efektifitasnnya apabila tidak tidak disertai ketegasan dalam penindakan.

Hal itu disampaikan poliitisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi.

Menurut Teddy, PSBB Ketat tidak akan berefek sama sekali jika tidak ada ketegasan dan konsisten dalam menerapkan aturan seperti yang sudah-sudah.

“Pembatasan hanya judulnya saja, tapi di lapangan nol. Ketegasan akan membuat masyarakat patuh. Entah kesadaran atau karena takut, yang pasti akan patuh,” ujarnya, Senin (11/1/2021).

Baca juga: Jokowi ‘Ngamuk’ 10 Tahun Subsidi Pupuk Rp 330 Triliun Tak Ada Lompatan Produksi

Baca juga: Ibnu Sina Keluarkan Edaran PPKM, Ini 7 Poin yang Wajib Diperhatikan

Baca juga: Larangan WNA Masuk Indonesia Diperpanjang 14 Hari ke Depan

Misalnya, sebut Teddy, ada tempat usaha makanan melanggar, maka usahanya ditutup, barang-barangnya disita, dipublikasikan dan pemiliknya dipidana.

Maka, ujarnya, tempat usaha makanan lain pasti akan patuh, mereka tidak mau mengambil resiko seperti tempat usaha makanan yang ditutup tersebut. “Harus ada ketegasan,” tandas Teddy Gusnaidi.

Kemudian, lanjut dia, aturan usaha tempat makan hanya diterapkan pada tempat makan yang berizin atau permanen, sedangkan tempat makan di pinggir jalan tidak diterapkan.

“Ada kafe yang ditutup, tapi pecel lele, seafood pinggir jalan ramai orang makan, tidak ditutup,” kata Dewan Pakar PKPI ini. .

Baca juga: Heboh, Ketinggian Air Waduk Riam Kanan Terus Naik, Warga Diperingatkan Hati-hati

Baca juga: Ibnu Sina Beri Teguran Keras untuk Dinkes Atas Pelanggaran Prokes

Selain itu ada warung, lanjut dia, kedai kopi, bakso, roti bakar, mie instan dan sejenisnya di perumahan atau perkampungan masih buka, sehingga tempat kumpul pindah.

Maka, ujar Teddy lagi, tujuan utk menekan penyebaran tidak akan efektif, hanya memindahkan tempat saja, malah potensi semakin tinggi.

“Kenapa? Ya karena tempat penyebaran orang berkumpul semakin sedikit, yang terjadi adalah penumpukan orang di seafood, pecel lele, kedai kopi dan sebagainya,” katanya.

Teddy mengibaratkan, angkot dikurangi, maka akan terjadi penumpukan orang, karena ketersediaan angkot tidak sesuai dengan jumlah penumpang.

Baca juga: Presiden Sebut Hingga Akhir Tahun 426 Juta Dosis Vaksin Tiba di Indonesia

Teddy Gusnaidi juga mengungkapkan alasan dirinya condong menyoroti usaha tempat makanan, khususnya yang tdk resmi.

“Karena di sanalah potensi tempat penyebaran virus. Org datang silih berganti tdk tahu dari mana, menggunakan tempat yang sama dan tanpa protokol. Kumpul menjadi satu sehingga sangat berpotensi menyebarkan virus,” katanya.

Menurut Teddy, memang pasti akan akan ada yang protes, dengan dalih mencari nafkah.

“Jangan ngasal! Tentu jawabannya adalah, kalau semua orang berfikiran seperti itu, maka aturan PSBB ini untuk apa dibuat? Kalau mau disalahkan, apakah kalian mau salahkan Tuhan atas pandemi ini?” sembur Teddy.

Dia melanjutkan, “Hilangkan pertanyaan itu, diganti dengan apa solusinya agar usaha tempat makan baik yang resmi maupun tidak resmi bisa mencari nafkah.”

Yang pasti waktunya terbatas, karena pembatasan ini bukan hanya diderita oleh tempat pecel lele, tapi seluruh sektor usaha di seluruh dunia.

Kalau semuanya serentak tutup pukul 19.00, kata Teddy, maka para pembeli pecel lele pasti akan membeli sebelum jam tersebut.

Jika biasanya beli jam 22:00, tapi karena sdh tau jam 19:00 ditutup, maka jam 17:00 sudah dibeli utk nanti dimakan dirumah pada jam 22:00. Akan seperti itu..

Kalau seperti sekarang, masyarakat tidak akan melakukan hal tersebut, karena sepertinya aturan untuk menutup usaha, hanya untuk tempat usaha resmi saja, untuk yang tidak resmi tidak terkena aturan, maka penumpukan manusia tetap akan terjadi dan malah semakin banyak.

Jadi, tekan dia, jika tidak diterapkan secara merata, mending PSBB Ketat ini dicabut, karena jika diterapkan, maka masyarakat yang terinfeksi virus akan semakin banyak dari sebelum adanya aturan PSBB Ketat ini.

“Utk apa buat aturan ketat jika tdk ketat? Apa hanya untuk gaya-gayaan?” tutup Teddy. (*)

Baca juga:

1008_Fadli Zon
Setelah Diadukan ke Bareskrim, Fadli Zon Terancam Dilaporkan ke MKD

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.