Hukum Akad Nikah di Masjid dan Waktu yang Tepat Ijab Qabul


KONTENKREATIPS.COM – Setiap orang yang akan melangsungkan pernikahan tentu mengharap pernikahannya penuh berkah.

Karena itu, tak sedikit dari mereka yang melangsungkan akad pernikahannya di masjid.

Namun, mungkin sebagian orang masih ragu bagaimana sesungguhnya hukum dan kebolehannya melangsungkan akad nikah di masjid?

Jumhur (mayoritas) ulama memang menganjurkan akad nikah dilakukan di masjid.

Di antara tujuannya adalah agar lebih mudah diketahui khalayak banyak dan juga demi keberkahan akad tersebut.

Baca juga: Dini Hari, Kawasan Cempaka Banjarbaru Diserbu Banjir

Siti ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya kurang lebih demikian: “Umumkanlah akad nikah itu, lakukan ia di masjid, dan tabuhlah rebana untuknya.”

Hanya saja para ulama Maliki mengingatkan, kebolehan akad nikah di masjid hanya prosesi ijab kabulnya saja.

Sedangkan acara-acara lain seperti makan-makan atau tradisi yang berkaitan dengan pernikahan, sebaiknya dilakukan di luar masjid.

Batasan ini juga tentu sangat beralasan karena menyangkut kehormatan masjid itu sendiri sebagai tempat suci dan tempat ibadah yang harus tetap dijaga.

Baca juga: Detik-detik Putra Mahkota Saudi Disuntik Dosis Pertama Vaksin Covid-19

Seperti, tidak mengeraskan suara, tidak memperbanyak bicara, tidak mengizinkan perempuan yang sedang haid, dan sebagainya.Sehingga sekiranya tidak bisa menjaga kehormatan masjid, maka makruh hukumnya.

Bahkan jumhur ulama sepakat memakruhkan dan melarang nyanyian-nyanyian yang tak pantas dilakukan di masjid.

Pertanyaannya, mengapa pernikahan diperbolehkan di masjid, bukankah pernikahan termasuk akad?

Para ulama menjelaskan, akad yang dimakruhkan di masjid adalah akad jual beli atau sewa-menyewa.

Sedangkan akad hibah dan sejenisnya tidak dimakruhkan, bahkan dianjurkan di masjid. Salah satu akad yang dianjurkan adalah akad nikah.

Baca juga: Striker dan Bek Manchester City Positif Covid-19

Namun, perlu diingat, para ulama telah memakruhkan mengeraskan suara di masjid, walaupun dengan suara dzikir, jika sekiranya dzikir itu bisa mengganggu orang yang shalat.

Jika tidak mengganggu maka tidak makruh. Justru jika dengan mengeraskan dzikir dapat membangkitkan ketaatan, menggugah hati orang yang melakukannya atau mengingatkan orang tidak berdzikir, maka itu lebih baik.

Bagaimana jika mengeraskan suara dalam berbicara? Jika yang dibicarakannya adalah hal-hal yang kurang baik maka jelas hukumnya makruh, bahkan bisa haram.

Sama halnya dengan pembicaraan yang baik-baik tetapi mengganggu orang yang shalat maka itu pun bisa makruh.

Baca juga: Astaga! Limbah Berbahaya Dikirim ke Indonesia, 79 Kontainer Akan Dikembalikan ke Negara Asal

Intinya, jika pembicaraannya dihalalkan dan tidak mengganggu maka hukumnya boleh dan tidak dimakruhkan (‘Abdurrahman ibn Muhammad ‘Audh al-Jaziri, al-Fiqh ala al-Mazhahib al-Arba‘ah, [Beirut: Darul Kutub], 2003, jilid 1, hal. 259).

Sementara perihal menyantap makanan di masjid, selama tidak mengotori, hukumnya mubah.

Namun, bila mengotori dan mengganggu, karena makanannya berbau seperti petai dan jengkol, maka hukumnya makruh bahkan tidak diperkenankan.

Kesimpulannya, melangsungkan akad nikah di masjid termasuk hal yang dianjurkan, dengan catatan tetap menjaga kehormatan masjid.

Sebaiknya tidak dilakukan pada waktu shalat karena bisa mengganggu, terlebih memakai pengeras suara, tidak membicarakan hal-hal yang tak sepatutnya, dan seterusnya.

Demikian pula acara makan-makan. Boleh dilakukan di masjid tapi dengan tetap menjaga kebersihan dan kehormatannya.

Baca juga: Saudi Bangun Pusat Vaksin Covid-19, Warga Bisa Daftar Lewat Aplikasi

Jika tidak bisa, sebaiknya dilakukan di luar masjid, terlebih ada kekhawatiran akan disertai obrolan yang tak patut atau ada orang yang berteriak.

Mungkin itu pula pertimbangan ulama Maliki menyarankan agar yang dilakukan di masjid hanya prosesi akad nikahnya saja (Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman, al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, [Kuwait: Daru al-Salasil], 1404 H, jilid 37, hal. 214).

Selain itu, para ulama Syafii, Maliki, dan Hanbali menganjurkan agar akad nikah dilangsungkan pada hari Jumat, sebagaimana yang telah dilakukan para ulama terdahulu.

Sebab, hari Jumat adalah hari besar yang mulia, dianggap rajanya hari, bahkan Nabi Adam pun diciptakan pada hari itu.

Baca juga: Gus Mus Nasihati Menteri Agama yang Baru Gus Yaqut

Sementara keberkahan dalam akad nikah tentu sangat diharapkan. Sehingga ia dianjurkan pada hari yang paling mulia dan penuh keberkahan itu.

Ditambahkaan oleh ulama Syafi‘i, akad nikah juga sebaiknya dilakukan pada pagi hari Jumat, berdasarkan salah satu doa Rasulullah, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.”

Namun, menurut ulama Hanbali, justru sebaiknya akad dilangsungkan pada sore hari.

Hal itu berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Lakukanlah perkawinan di sore hari. Karena hal itu lebih besar menarik keberkahan.”

Baca juga: Lupakan Kasus Video Syur, Bahagianya Gisel dan Gempi Natal Kumpul Gading

Menurut para ulama, selain berada di waktu mustajab, akad nikah pada sore hari Jumat juga dianggap lebih dekat pada tujuan pernikahan (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, [Damaskus: Darul Fikr], jilid 9, hal, 6618). Wallahu a’lam. (*)

Foto: Ilustrasi (YouTube)

Sumber: NU Online

Baca juga:

Resmi Batal! U-20 World Cup Indonesia 2020 dan U-17 World Cup Peru 2021, Pindah ke Tahun Ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.